• Follow me on Twitter

Perihal Bumi 1

[QS.  AN NUR ayat 43]

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka di timpakannya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang di kehendaki-Nya dan di palingkannya dari siapa yang di kehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. 

Setiap saat energi matahari mengalir di bumi, energi ini memanaskan daratan dan samudera, namun energi dari sinar matahari tidak jatuh merata di permukaan bumi yang melengkung, daerah sepanjang garis katulistiwa menerima panas lebih banyak di bandingkan daerah kutub. Di antara daerah tropis dan kutub ada wilayah yang dapat meratakan perbedaan udara panas dan dingin, akan tetapi hal itu di kacaukan oleh putaran bumi, serta di kacaukan pula oleh perbedaan kecepatan udara panas dan udara dingin pada benua maupun samudera.

Karena putaran bumi dan perbedaan kecepatan tersebut massa udara mengembara mengelilingi bumi, jika massa udara dingin dan panas bertemu, maka udara dingin berputar mengelilingi udara panas dan menyusup ke bawah udara panas di sebabkan tekanannya lebih tinggi, udara panas yang memiliki tekanan lebih rendah di desak ke atas sehingga tidak dapat mempertahankan semua uap air yang di bawanya dan mendingin sewaktu terdesak ke atas, sebagian uap air yang telah menjadi air turun kembali sebagai hujan.

Bergeraknya udara yang membawa uap air mengembara mengelilingi bumi, menyebabkan pertemuan massa udara panas dan dingin, keadaan yang sesuai dengan perumpamaan “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya”.

Kalimat selanjutnya “kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya”, adalah perumpamaan dari udara panas yang bertekanan rendah terdesak keatas oleh udara dingin yang bertekanan tinggi, penyebab turunnya hujan.

Hujan Es (Hail Stone) terjadi ketika atmosfir yang merupakan larutan gas raksasa mencapai titik jenuh, hal ini membuat sejumlah besar uap air terkondensasi menjadi es pada lapisan dingin atmosfir, karena besarnya ukuran uap air yang membeku, walaupun bergeser ke arah yang lebih rendah dengan suhu yang relatif hangat, tidak membuat seluruh uap air beku tersebut menjadi cair, sehingga turun ke bumi sebagai gumpalan-gumpalan es .

Hujan es berasal dari jenis awan tebal berlapis-lapis seperti Awan Cumulo Nimbus yang memiliki luas area 3 – 5 km dan tumbuh secara vertikal, seperti perumpamaan “dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: